Kisah Nabi Dawud dan 14 Kekasih Allah

Dikisahkan bahwa sesungguhnya Allah SWT memberikan wahyu kepada Nabi Dawud as. "Wahai Dawud, sampai kapan kamu akan meminta surga kepada-Ku, sedangkan kamu tidak meminta rindu kepada-Ku ?". Nabi Dawud as. bertanya " Wahai tuhanku, siapa orang-orang yang rindu kepada-Mu ?". Allah SWT pun menjawab "Sesungguhnya orang-orang yang rindu kepada-Ku adalah orang-orang yang Aku bersihkan hati mereka dari segala sifat kotor, orang-orang yang Aku jaga hati mereka, Aku membuka hati mereka sehingga mereka ma'rifat kepada-Ku. Sesungguhnya Aku membawa hati mereka dengan tangan-Ku, dan Aku meletakkannya di atas langit. Kemudian Aku memanggil para malaikat-malaikat-Ku yang mulia. Ketika mereka telah berkumpul, mereka bersujud kepada-Ku dan Aku berkata "Sesungguhnya Aku tidak memanggil kalian untuk bersujud kepada-Ku, tetapi aku ingin memperlihatkan dan memamerkan kepada kalian hati orang-orang yang rindu kepada-Ku. Sesungguhnya hati mereka mampu menerangi para malaikat di langit-Ku seperti matahari menerangi penduduk bumi". Wahai Dawud, sesungguhnya Aku menciptakan hati orang-orang yang rindu kepada-Ku dari ridlo-Ku dan aku memancarkan hati itu dengan cahaya Dzat-Ku. Aku menjadikan mereka sebagai tempat perantara wahyu (ilham)-Ku. Aku menjadikan badan mereka sebagai tempat pengawasan-Ku pada bumi. Aku menjadikan jalan di hati mereka dan mereka melihat-Ku dengan jalan itu sehingga hati mereka bertambah rindu pada-Ku di tiap harinya".

Nabi Dawud berkata "Wahai tuhanku, tunjukkanlah kepadaku orang-orang yang cinta kepada-Mu ?". Kemudian Allah memberi wahyu lagi kepada beliau "Wahai Dawud, datanglah ke gunung Libanon, disana ada 14 orang yang sebagian mereka orang yang sudah tua, sebagian lagi masih muda, dan sebagian lagi setengah tua. Jika kamu telah menemui mereka, sampaikan salam-Ku dan katakan kepada mereka bahwa sesungguhnya tuhan kalian menyampaikan salam kepada kalian. Tuhan kalian berkata "Apakah kalian tidak meminta suatu permintaan, sesungguhnya kalian adalah kekasih-Ku, orang-orang yang Aku bersihkan hatinya, dan orang-orang yang ada dalam penjagaan-Ku. Aku gembira karena kegembiraan kalian, dan Aku telah sampai pada cinta kalian. Aku senantiasa mengawasi kalian dalam setiap waktu seperti seorang ibu memandang anaknya".

Nabi Dawud pun segera berangkat sebagaimana wahyu yang telah diberikan. Beliau menemui mereka dalam keadaan bertafakkur atas keagungan Allah. Namun, saat melihat Nabi Dawud, mereka berpaling dan menjauh dari beliau. Nabi Dawud pun berkata "Sesungguhnya kau adalah utusan bagi kamu sekalian, aku datang untuk menyampaikan risalah tuhanku kepada kalian". Mendengar perkataan itu, mereka pun berbondong-bondong menghadap Nabi Dawud as. Mereka merasa senang dan terhormat atas kedatangan Nabi Dawud. Dengan segenap kerendahan hati,pandangan mereka pun mengarah pada tanah, mereka mendengarkan dengan penuh perhatian atas apa yang disampaikan Beliau. Kemudian Beliau menyampaikan salam dari Allah kepada mereka dan mengatakan apa yang telah Allah wahyukan kepada beliau. Mendengar hal itu, pipi mereka pun dibasahi oleh air mata kegembiraan.
Tetua mereka berkata "Maha Suci Engkau, Maha Suci Engkau, kami adalah hamba-Mu yang lemah dan anak dari hamba-Mu yang lemah, maka ampuni kami atas terputusnya hati kami dari dzikir kepada-Mu di sepanjang umur kami". Berkata pula yang lainnya "Maha Suci Engkau, Maha Suci Engkau, kami adalah hamba-Mu yang lemah dan anak dari hamba-Mu yang lemah, maka berilah kami anugerah dengan indahnya penglihatan di antara kami dan Engkau". Berkata pula yang lain "Maha Suci Engkau, Maha Suci Engkau, kami adalah hamba-Mu yang lemah dan anak dari hamba-Mu yang lemah, apakah kami berani meminta suatu permintaan kepada-Mu sedangkan Engkau telah mengetahui bahwa tidak ada sesuatu yang kami butuhkan dari urusan kami, maka tetapkanlah kami di jalan-Mu dan sempurnakan anugerah kepada kami dengan itu". Berkata pula yang lain "Kami adalah orang-orang yang ceroboh dalam mencari ridlo-Mu, maka tolonglah kami dengan kemurahan-Mu". Berkata pula yang lain "Dari air sperma Engkau menjadikan kami, dan Engkau member anugerahkepada kami dengan bertafakkur atas keagungan-Mu. Apakah tidak malu berkata (meminta) orang yang sibuk dengan kebesaran-Mu dan bertafakkur atas keagungan-Mu, dan Engkau menuntun kami agar kami mendekat pada cahaya-Mu." Berkata pula yang lain "Tidak mampu lisan kami untuk meminta kepada-Mu karena keagungan Dzat-Mu, dekatnya para kekasih-Mu kepada-Mu, dan telah banyak anugerah-Mu kepada orang-orang yang cinta kepada-Mu". Berkata pula yang lain "Engkau telah memberikan petunjuk di hati kami untuk mengingat-Mu, Engkau telah menyibukkan kami dengan urusan kepada-Mu, maka ampuni kami atas kecerobohan dalam bersyukur kepada-Mu". Berkata pula yang lain "Engkau telah mengetahui permintaan kami, yakni melihat Dzat-Mu". Berkata pula yang lain "Bagaimana seorang hamba tidak malu kepada tuannya jika Engkau memerintahkan kepada kami untuk meminta suatu permintaan atas kemurahan-Mu, maka berilah kami cahaya yang menunjukkan kami di dalam kegelapan dari lapisan langit". Berkata pula yang lain "Kami meminta agar Engkau menerima kami dan melanggengkannya di sisi kami". Berkata pula yang lain "Kami meminta kesempurnaan nikmat dan anugerah-Mu dalam semua yang Engkau berikan kepada kami". Berkata pula yang lain "Tidak ada suatu permintaan bagi kami dari makhluk-Mu, maka berilah anugerah kepada kami untuk melihat keagungan Dzat-Mu". Berkata pula yang lain "Aku meminta kepada-Mu diantara kami agar Engkau mengeluarkan air mataku dari pandangan urusan dunia dan segala yang ada di dalamnya, sedangkan hatiku sibuk dengan akhirat". Berkata pula yang lain "Engkau telah mengetahui, bertambah barokah dan mulia Dzat-Mu, Sesungguhnya Engkau mencintai para kekasih-Mu, maka berilah anugerah kepada kami agar hati kami senantiasa sibuk dengan-Mu dan melalaikan semua selain Dzat-Mu".

Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Nabi Dawud as. “Katakan kepada mereka bahwa aku telah mendengar permohonan mereka dan mengabulkan apa yang kalian mohon. Maka berpisahlah setiap salah satu dari kalian  dari lainnya. Dan kembalilah ke dalam gua karena Aku telah membuka hijab/tutup di antara Aku dan kalian sehingga kalian bias melihat cahaya dan keagungan-Ku.

Nabi Dawud pun bertanya “Wahai tuhanku, apa yang membuat mereka mendapatkan anugerah istimewah ini dari-Mu ?”. Allah pun menjawab “Karena prasangka baik kepada-Ku, menjaga urusan dunia dan apa yang ada di dalamnya, menyepi dan bermunajah kepada-Ku. Dan sesungguhnya derajat (anugerah) ini tidak dapat didapatkan kecuali bagi orang yang menjauhi dunia dan apa yang ada di dalamnya, tidak mengingat-ingat dan sibuk dengan urusan dunia, hatinya telah sampai kepada-Ku, dan ia memilih-Ku daripada semua makhluk-Ku. Maka saat itu Aku akan mengasihinya, menggapai hatinya, dan membuka hijab/tutup di antara Aku dan dia sehingga ia bias melihat-Ku seperti seorang yang melihat sesuatu dengan matanya. Dan aku menampakkan kemuliaan-Ku di setiap waktu serta mendekatkannya pada nur Dzat-Ku. JIka ia sakit, maka Aku akan merawatnya seperti seorang ibu merawat anaknya. Jika ia haus, maka aku akan menyegarkannya dan mencicipkannya makanan dzikir kepada-Ku. Ketika Aku telah melakukan semua itu Wahai Dawud, maka hatinya akan buta akan dunia dan semua yang ada di dalamnya, dia tidak akan mencintai dunia sehingga ia tidak akan pernah lalai dalam sibuk mengingat-Ku. Aku mempercepat ia kembali dan dating kepada-Ku, sedangkan Aku benci jika aku membunuhnya karena ia adalah tempat pengawasan-Ku dari semua makhluk-Ku, Ia tidak akan melihat selain Aku dan Aku juga tidak melihat selain dia. Jika aku telah mkelihatnya wahai Dawud, maka sirnalah nafsunya, badannya kurus, merengjkut anggota badannya, dan hatinya lepas kepada-Ku. Jika hatinya sibuk mengingatku, maka aku akan memamerkannya kepada para malaikat dan penduduk langit sehingga hatinya bertambah takut dan ibadah kepada-Ku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku wahai Dawud, aku akan mempersilahkan ia duduk di surga firdaus, dan aku tidak akan menyembuhkan hatinya dari melihat kepada-Ku sampai ia benar-benar ridlo dan di atas ridlo.”

Ya Tuhan kami yang Maha Mengetahui dan Maha Mengampuni, ampuni kami yang terlalu sibuk mengurusi dunia kami, ampuni kami yang selalu melalaikan-Mu, ampuni kami yang terlena dan lupa !!!


Kisah ini diambil dari Kitab Ihya’ulumuddin karangan Imam Ghozali, Juz 4. Hal. 315-317.

Post a Comment

Previous Post Next Post